Piknik Seru Tanpa Sampah Plastik di Taman Panatayuda: Belajar Jaga Bumi Lewat Cara Menyenangkan!

Halo semua! Baru-baru ini saya berkesempatan mengikuti sebuah acara yang super keren dan mengedukasi yaitu Piknik Bebas Plastik. Acara ini dikemas dengan sangat apik dan interaktif lewat perpaduan talkshow, workshop, dan berbagai permainan seru.

Acaranya diselenggarakan di penghujung bulan Agustus kemarin, tepatnya pada Minggu, 30 Agustus 2026. Kebetulan saya bersama anak perempuan saya sedang mencari kegiatan akhir pekan yang agak berbeda. Jadi kami menghadiri acara Piknik Bebas Plastik yang berlokasi di Taman Panatayuda, Bandung.

Kali pertama mengikuti acara ini, vibes yang kami rasakan sejak awal benar-benar positif. Baru saja menapakkan kaki di area taman, kami langsung disuguhi aneka snack tradisional dengan warna yang sangat menarik. Uniknya, jajanan ini dihidangkan di atas nampan bambu yang dialasi daun pisang. Sentuhan budaya lokal Indonesia yang khas seperti ini tidak hanya memanjakan mata dan lidah, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa kita bisa menyajikan hidangan tanpa harus bergantung pada kemasan plastik sekali pakai.

Aneka snack yang disajikan dalam wadah tradisional


Cerita Inspiratif dari Stan Cemara Paper

Sebelum acara dimulai, saya sempat melipir sebentar ke salah satu stan yang memamerkan berbagai kreasi daur ulang kertas unik. Mulai dari notebook, kipas, payung, cover laptop, hingga kartu nama dipajang dengan rapi dan sukses mencuri perhatian banyak pengunjung. Kualitas karyanya benar-benar halus dan estetis!

Di stan ini, saya berkesempatan untuk mengobrol langsung dengan Ibu Asti Gustiasih, pemilik dari Cemara Paper. Dari percakapan hangat kami, saya baru mengetahui fakta luar biasa bahwa seluruh kerajinan daur ulang kertas yang cantik ini merupakan karya dari teman-teman disabilitas. Ibu Asti dengan penuh kesabaran membimbing anak-anak disabilitas tersebut agar mereka bisa mandiri dan memiliki keterampilan nyata untuk modal bekerja.

Hal yang membuat saya semakin kagum adalah sosok Ibu Asti sendiri. Di usianya yang sudah tidak lagi muda, beliau justru berani mengambil langkah besar untuk memulai usaha sosial ini benar-benar dari nol. Kisah beliau menjadi refleksi berharga bagi saya hari itu: bahwa usia sama sekali bukan penghalang untuk terus belajar, berkarya, dan menebar manfaat bagi sesama.

Kreasi daur ulang kertas unik


Ibu Asih owner Cemara Paper


Kipas dan notebook dari daur ulang kertas


Kolaborasi Keren Antar Komunitas & Dilema Workshop

Saat acara dimulai terasa jauh lebih semarak dengan hadirnya beberapa stan workshop yang interaktif. Acara ini berhasil menghadirkan kolaborasi apik dari berbagai gerakan peduli lingkungan seperti @rivercleanupindonesia, @miu.mariisiulang, @sporadies, dan @the__room19. Masing-masing membawa misi edukasi tersendiri agar masyarakat bisa lebih bijak mengelola lingkungan dari rumah.


Silent reading


Namun sayang, karena semua workshop berjalan secara paralel di waktu yang bersamaan, kami harus memilih salah satu saja yang paling diminati. Jujur kami sempat bingung, bimbang antara memilih workshop linocut atau merangkai bunga, meskipun sudut silent reading  juga terlihat sangat asyik. Karena kedua workshop tersebut benar-benar hal baru bagi kami, akhirnya anak perempuan saya memutuskan untuk memilih workshop merangkai bunga. Tapi, saya tetap menyempatkan diri mencuri-curi waktu sebentar untuk mengintip dan mendengarkan penjelasan tentang teknik linocut di stan sebelah, hehe.

Stand Linocut



Workshop Linocut

Realita Merangkai Bunga: Tidak Semudah di Media Sosial!

Kuota asli untuk workshop merangkai bunga ini sebenarnya dibatasi hanya untuk 10 orang saja. Namun karena antusiasme yang tinggi, peserta yang datang ternyata melebihi kuota. Untung Mba Risa (sang mentor) baik banget. Semua peserta yang terlanjur datang tetap diperbolehkan ikut, meskipun dengan jumlah bunga seadanya untuk dirangkai karena harus dibagi rata. Masing-masing peserta hanya diperbolehkan mengambil beberapa tangkai bunga dan daun saja.

Workshop merangkai bunga


Workshop merangkai bunga


Workshop merangkai bunga


Workshop merangkai bunga

Awalnya, saya pikir merangkai bunga itu mudah, persis seperti video-video estetik yang sering berseliweran di media sosial. Tapi ternyata kenyataannya berbanding terbalik! Begitu dipraktikkan langsung, bunganya lari kesana-kemari dan susah sekali diam di tangan.

Tantangan berikutnya muncul saat proses wrapping (membungkus buket) menggunakan kertas daur ulang dan koran bekas. Hasil covering buket buatan kami ternyata jauh dari kata estetik. Padahal kalau melihat hasil karya peserta lain di sebelah rasanya cakep-cakep banget, tapi hasil sendiri malah di luar ekspektasi, hahaha! Tapi tidak apa-apa, pengalaman dan proses belajarnya itu yang mahal.

Hasil workshop merangkai bunga


Hasil merangkai bunga bersama Sporadies


Fasilitas Zero-Waste dan Manajemen Acara yang Matang

Untuk makan siang, pihak penyelenggara  menyiapkan beberapa pilihan menu yang menggugah selera. Mengusung konsep zero-waste, pengunjung diwajibkan menggunakan wadah sendiri yang dibawa dari rumah. Namun bagi yang lupa atau kurang, panitia juga menyediakan pisin/piring kecil untuk dipinjamkan.

Menariknya, meskipun kami hanya membawa satu wadah dari rumah, kami tetap bisa mencicipi dan menikmati menu makanan lainnya dengan nyaman. Karena panitia menyediakan fasilitas wastafel lengkap untuk cuci tangan maupun cuci piring di area taman.

Bawa wadah sendiri


Disediakan wadah dan gelas


Menggunakan wadah sendiri


Lokasi Taman Panatayuda dekat dengan rumah sakit dan sekolah sehingga akses untuk menunaikan ibadah sholat cukup mudah. Salut untuk panitia. Semua  dipikirkan dengan matang sehingga acara bisa berjalan dengan lancar.

Belajar Mengelola Sampah Lewat Cara Seru di Piknik Bebas Sampah!

Salah satu keseruan yang paling berkesan buat saya adalah saat mencoba sebuah permainan kartu edukatif di sana.

Kartu Rumah Minim Sampah


Permainan kartu Rumah Minim Sampah



Main Kartu Seru, Sambil Mikir!

Permainan kartu ini terdiri dari beberapa level, mulai dari yang mudah santai sampai level yang memaksa kita untuk berpikir keras. Kalau boleh digambarkan, cara mainnya sebenarnya mirip dengan Uno, tetapi diberikan sentuhan konsep yang berbeda dan jauh lebih bermakna.

Konsep Penting: Cegah, Pilah, dan Olah

Lewat permainan kartu ini, kita diajak untuk memahami esensi penting dalam menjaga lingkungan sebelum terlambat, yaitu:

• Cegah: Bagaimana kita mengurangi potensi timbulan sampah sejak awal.

• Pilah: Memisahkan jenis-jenis sampah sesuai kategorinya.

• Olah: Memanfaatkan kembali atau mendaur ulang sampah yang ada.

Semua langkah ini sangat krusial untuk kita pahami dan terapkan bersama sebelum situasi darurat sampah benar-benar melanda lingkungan kita.

Apresiasi untuk Penyelenggara

Saya benar-benar salut untuk seluruh panitia penyelenggara Piknik Bebas Sampah. Segala detail kebutuhan peserta, mulai dari konsep edukasi yang menyatu lewat talkshow, workshop, media permainan, konsumsi ramah lingkungan, hingga akses ibadah dipikirkan dengan sangat matang sehingga acara bisa berjalan dengan super lancar.

Pengalaman berharga ini benar-benar membekas di hati saya dan anak perempuan saya. Semoga ke depannya acara-acara serupa bisa terus rutin diadakan di berbagai ruang publik lainnya. Yuk, mari mulai dari diri sendiri dan keluarga kecil kita untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai demi bumi yang lebih hijau dan berkelanjutan!


No comments:

popular post

top navigation

Powered by Blogger.