Bulan Juli adalah bulan dimana liburan panjang berlaku di setiap tingkat pendidikan. Para orangtua, khususnya emak-emak, mendapat kerjaan tambahan mengatur kegiatan anak yang sedang liburan sekolah. Sebenarnya kegiatan club bola dan basket anak anak tetap berjalan saat liburan sekolah. Tapi saya ingin ada kegiatan dengan sentuhan edukasi di setiap liburan sekolah.
Liburan-liburan lalu sempat mengajak anak anak untuk mengunjungi berbagai tempat seperti museum, perpustakaan, taman hutan, situs, kebun binatang, kolam renang maupun mengunjungi sanak saudara.
Seiring waktu, anak anak beranjak remaja. Beberapa kegiatan mungkin terasa membosankan bagi mereka. Sebagai ibu, saya mencoba mengajak salah satu anak-anak untuk ikut bergabung dalam kegiatan komunitas yang menjadi concern saya belakangan ini. Masih dalam konsep kegiatan yang bernuansa edukasi.
Jadi ... saya mengajak anak perempuan saya untuk menjadi volunteer (istilahnya River Warrior / River Buddies) dalam kegiatan lingkungan bersih-bersih sungai bersama komunitas Rivercleanup di Cikapundung Riverspot. Kebetulan tema acara bulan Juli adalah Rivercleanup Day Liburan Anak Sekolah.
Kegiatan ini diselenggarakan gratis lho, tidak semua komunitas menyelenggarakan kegiatan secara gratis. Ada juga komunitas yang meminta contribution fee di awal untuk acara kegiatan.
Sebelum ikut acara kita mendaftar lebih dulu melalui link yang ada pada akun Instagram @rivercleanupindonesia. Setelah submit pendaftaran akan ada email konfirmasi pendaftaran untuk memastikan kehadiran saat acara. Juga informasi seputar susunan acara, titik kumpul yang disertai maps, hal-hal yang harus disiapkan (pakaian dan alas kaki yang sebaiknya dikenakan, tumbler, topi, lotion, gelas minum, dsb.), keamanan saat berkegiatan, dll. Dengan informasi detail seperti ini river warrior sudah siap berkegiatan bersama Rivercleanup pada hari - H.
Hari Sabtu pagi tiba, 04 Juli 2026 kita berkumpul di Cikapundung Riverspot (CRS) Bandung. Dengan mengendarai kendaraan roda dua saya dan anak membelah pagi yang dingin menuju titik kumpul. Lokasi lumayan jauh dari rumah, namun karena waktu masih pagi (kami berangkat pukul 06.00 karena acara di mulai pukul 07.00 pagi) jalan masih lengang. Tidak sampai satu jam kami sudah mencapai titik lokasi.
Sampai di lokasi kita langsung mendatangi meja daftar ulang, menyampaikan nama lengkap untuk mendapatkan sarung tangan yang dipinjamkan oleh Tim Rivercleanup.
Setelah semua River Warrior datang ke lokasi , ada safety talk yang disampaikan oleh tim Rivercleanup lebih dahulu termasuk pemilahan jenis sampah ke dalam karung. Dilanjutkan dengan doa bersama dan foto grup.
Setelah itu River warrior dilepas untuk memulai kegiatan bersih-bersih sungai dengan pendampingan dari Tim Rivercleanup di setiap grup. Berjalan menuju titik akses ke sungai Cikapundung dan area Braga-Asia Afrika.
Bersih-bersih dimulai dengan memungut puntung rokok yang berserakan di pelataran parkir. Hampir di sepanjang jalan area Braga-Asia Afrika puntung rokok ditemukan. Lainnya adalah botol dan gelas plastik, kertas, kain, kaca, bungkus rokok bahkan pamper yang dibuang sembarangan di pinggir jalan
Bersih-bersih dimulai dengan memungut puntung rokok yang berserakan di pelataran parkir. Hampir di sepanjang jalan area Braga-Asia Afrika puntung rokok ditemukan. Lainnya adalah botol dan gelas plastik, kertas, kain, kaca, bungkus rokok bahkan pamper yang dibuang sembarangan di pinggir jalan.
Selanjutnya perjalanan bersih bersih kami berakhir di bantaran sungai Cikapundung dengan akses masuk melalui pintu 'Doraemon' , istilah yang digunakan oleh tim Rivercleanup untuk menggambarkan sebuah akses yang dibuat dari pagar rusak. Pagar mengelilingi sungai Cikapundung jadi agak sulit mengakses jalan masuk tanpa ada pintu Doraemon.
Disana lebih banyak sampah ditemukan, khususnya tissue, sedotan plastik, botol dan gelas plastik, bahkan botol miras. Ada juga sampah yang tidak teridentifikasi karena saling mengait dengan berat sekitar 13 kg. Butuh beberapa River Warrior untuk mengangkut sampah dari sungai.
Selanjutnya kita kembali ke Plaza CRS, untuk melakukan audit sampah, mengembalikan sarung tangan, menikmati cemilan dan minuman. Disini tumbler dan gelas dibutuhkan karena tidak disediakan. Camilan yang disajikan di atas daun pisang jadi bebas dari sampah plastik, hanya sampah organik yang dihasilkan.
Setelah selesai menikmati camilan kita beristirahat sambil mengikuti kegiatan River Talks, berisi kesan kesan selama mengikuti kegiatan, kendala yang dialami, kapok tidak mengikuti acara ini. Kebanyakan River Warrior gak kapok mengikuti acara bersih bersih sungai ini malah ingin terus ikut di kegiatan selanjutnya karena acara memang seru.
Bukan hanya sekedar bersih bersih sungai, disana kita memperoleh wawasan baru, semangat baru, dan kenalan baru. Itulah mengapa mereka semua ingin terus melanjutkan acara ini. Sepanjang perjalanan kita bisa mengobrol santai dengan sesama River Warrior tentang sampah, lingkungan, dan hal-hal yang kita amati di jalan. Obrolan ini menjadi pembuka perkenalan yang dilanjutkan pertanyaan tinggal dimana, sekolah dimana, tau acara ini darimana dll. Lucunya jarang diantara kami yang menanyakan nama, jadi hanya hafal wajah tanpa nama haha ....
Kegiatan ini semakin seru karena River Cleanup berkolaborasi dengan berbagai komunitas peduli lingkungan ada miu.mari isi ulang, toko nol sampah, edan sepur dan masih banyak lagi.
Sebagai River Warrior ada teman-teman dari komunitas bank sampah, mahasiswa ITB, Polban, UPI, SD Alpha Centauri, BZW, Forsepsi, serta berbagai komunitas inspiratif lainnya.
Rasanya menyenangkan bisa bertemu dengan orang-orang yang memiliki semangat yang sama untuk menjaga bumi.
Sebagai New River Warrior, saya benar-benar excited! Seluruh rangkaian acara dikemas dengan sangat baik. Kegiatannya padat, tetapi tetap santai dan tidak terasa melelahkan.
Satu kata yang bisa menggambarkan pengalaman ini: SERUUU! 💚
Tak kalah menarik, di penghujung liburan kami berdua sempat mengunjungi Kebun Seni Tani di daerah Cigadung. Dalam rangka rilis buku 'Dari Piring Nusantara ke Tubuhku' yang ditulis oleh mba Yara @baidhazain, seorang ahli gizi sekaligus penulis juga hadir penerbit buku independen dari Yogyakarta, @gurubumi.
Buku ini hadir karena penulis merasa Indonesia memiliki kekayaan pangan lokal yang beragam, lezat, dan bergizi. Namun pengetahuan tentang gizi dan pangan lokal belum selalu dikenalkan kepada anak dan keluarga dengan cara yang dekat dan menarik
Berkolaborasi dengan para petani adalah cara cerdas sehingga buku ini mudah dipahami dengan cara melihat langsung sumber pangan lokal di Kebun Seni Tani.
Acara Jelajah kebun pangan lokal ini cukup santai, dimulai dari tur kebun, bincang dari kebun ke meja makan, dan telusur rasa olahan kebun.
Tur kebunnya menyenangkan, ada berbagai macam tanaman lokal yang diperkenalkan, mulai dari tanaman poh pohan, bayam brazil, rempah dan rimpang serta tanaman yang biasa kita temui tapi tidak tahu kalau bisa dimakan. Ada green house untuk persemaian benih dan bibit. Area pengomposan dan kelinci peliharaan sebagai hewan untuk mengurai sampai organik.
Menjelajahi kebun Seni Tani, mengenal lebih dekat bagaimana pangan di tanam, dirawat hingga sampai ke meja makan. Mengenal praktek dan budidaya pengomposan. Bertukar cerita dalam suasana kebun yang hangat.
Ada tiga pembicara dalam bincang santai dari kebun ke meja makan. Mba Tiara Baidhazain, penulis buku 'Dari Piring Nusantara ke Tubuhku', Kang Rendi, inisiator @kebun.tepikota dan Mba Vaniavanya , Moderator acara dari Seni Tani.
Setelah tur dan bincang santai kami disuguhi air kelapa muda dan bubur Manado. Masyaallah. Sayangnya kami harus segera kembali pulang sebelum acara berakhir karena ada kegiatan basket yang harus diikuti oleh anak.
Terima kasih banyak, Kebun Seni Tani, Guru Bumi, & Mba Tiara atas ilmu, pengalaman, dan suguhannya.
Senang sekali bisa ikut belajar sambil menikmati suasana yang hangat dan penuh inspirasi.
Semoga kegiatan-kegiatan edukatif yang diselenggarakan oleh komunitas seperti ini semakin banyak bermunculan di hari-hari libur sekolah. Karena selain mengembangkan akademis anak anak juga butuh mengembangkan diri menjadi pribadi yang bisa berempati, bertanggungjawab, memiliki rasa percaya diri, kepedulian terhadap lingkungan, menemukan minat dan bakat, membangun karakter yang kuat, juga kemampuan bersosialisasi.
Pengalaman ini memberikan kenangan dan pelajaran hidup yang sering kali bertahan hingga dewasa. Anak yang terbiasa terlibat dalam kegiatan sosial cenderung lebih siap menjadi warga masyarakat yang peduli, bertanggung jawab, dan mampu bekerja sama dengan orang lain.
Bahkan jika dilakukan hanya beberapa jam setiap bulan pun, kegiatan seperti menjadi sukarelawan di acara lingkungan, mengikuti komunitas berkebun, atau ikut aksi bersih-bersih lingkungan dapat memberikan dampak positif yang besar bagi perkembangan karakter anak.
"Setiap anak terlahir dengan keunikan yang luar biasa.
Reaksi orang tua hari ini membentuk karakter masa depan mereka."

















No comments: