Mengajarkan anak mencintai lingkungan tidak selalu harus dilakukan melalui buku atau kegiatan di sekolah. Mengajak mereka mengompos di rumah bisa menjadi cara sederhana untuk mengenalkan sampah organik, alam, sekaligus tanggung jawab terhadap lingkungan.
Sebagai ibu saya mencari kegiatan edukatif anak untuk mengisi waktu senggang diantara tugas tugas sekolah yang melelahkan. Kegiatan yang melibatkan anak untuk aktif baik secara fisik maupun mental.
Beberapa pilihan kegiatan edukatif yang ada dalam daftar yaitu bermain musik, membuat cemilan, menonton film, membaca buku, mendengarkan musik. Tapi sepertinya semua kegiatan pilihan itu sudah pernah dilakukan. Akhirnya saya berpikir untuk mengajak anak anak untuk terlibat dalam kegiatan saya sendiri yaitu mengompos.
Mengapa Mengajak Anak Mengompos?
Tidak ada salahnya mengenalkan cara mengompos pada anak anak karena bagi saya mengompos itu kegiatan yang asyik juga menyenangkan. Ada kepuasan tersendiri saat berhasil mengompos. Saya ingin berbagi perasaan puas dan menyenangkan itu pada anak anak.
Selain itu bila anak anak terlibat dalam proses mengompos, mereka dapat memberi manfaat pada alam sekaligus mendapat pelajaran dan keterampilan pada saat yang sama.
Mengompos merupakan salah satu cara untuk mengurangi jumlah sampah organik rumah tangga yang berakhir di tempat pembuangan akhir.
Melalui mengompos anak anak akan belajar bagaimana sisa makanan dan sampah organik akan berubah menjadi pupuk. Mengajarkan pada anak untuk mengolah sisa makanan alih alih membuangnya ke tempat sampah dan berakhir di TPA (Tempat Pembuangan Akhir).
Mengajak anak anak terlibat dalam kegiatan mengompos sangat bermanfaat bagi alam sekitar dan kebun kecil yang kami miliki. Sepertinya akan menjadi kegiatan yang akan mereka kenang dalam hidup mereka.
Apa Arti Mengompos untuk Anak?
Berikan penjelasan sederhana tentang istilah mengompos pada anak. Mengompos dapat diartikan sebagai proses penguraian sampah alam seperti daun, sayuran atau pun buah buahan yang sudah membusuk.
Mengompos biasanya dilakukan dalam tempat sampah ataupun hanya sekedar menumpuknya di atas tanah. Dimana sampah organik dan sampah alam bercampur dan berubah bentuk menjadi pupuk. Dalam proses penguraiannya sampah tersebut akan membusuk, menjadi rapuh dan menghitam sampai mendapatkan tekstur seperti tanah. Pupuk ini sangat baik untuk pertumbuhan tanaman saat bercampur dengan tanah. Dalam beberapa kasus, kompos bahkan dapat membawa kejutan kecil berupa benih yang masih mampu tumbuh menjadi tanaman baru. Baca juga pengalaman saya menemukan bibit cabai yang tumbuh dari kompos.
Manfaat Mengompos Bagi Anak
Mengajarkan anak mengompos memberi jawaban atas pertanyaan mengenai alam dan lingkungan hidup.
Menyingkirkan layar dari mata anak anak serta mendorong anak anak untuk menghabiskan waktu di luar rumah.
Berikut beberapa manfaat mengompos untuk anak :
- Mengompos mengajarkan anak bagaimana cara kerja lingkungan / alam sekitar dan bagaimana cara mengurangi sampah yang kita hasilkan
- Mengenalkan lebih jauh konsep 3 R : Reduce (Mengurangi ), Reuse (Menggunakan kembali) dan Recycle (Mendaur ulang)
- Dengan memilah sampah untuk mengompos anak anak akan belajar mengenal perbedaan material yang dapat terurai. Mana saja yang bisa dijadikan kompos dan mana yang tidak. Mereka bisa mengumpulkan daun daun di kebun atau daun daun yang berserakan di sepanjang jalan. Juga dapat membantu memilah sisa makanan yang ada di dapur.
- Mengenalkan pada anak bagaimana cara alam bekerja dengan memperlihatkan bagaimana perubahan sampah menjadi pupuk yang kaya nutrisi untuk tanah. Mengenalkan daur hidup. Bagaimana sebuah materi bisa hancur, terurai dan kembali berguna untuk alam. Anak anak sekaligus akan belajar biologi, kimia juga fisika melalui pengomposan.
Saat mengompos anak anak juga akan belajar tentang pentingnya keberadaan serangga, cacing juga siput serta bagaimana pengaruhnya terhadap ekosistem. Juga pentingnya mikroorganisme, bagaimana hewan terkecil itu memiliki peran yang begitu besar dalam sebuah ekosistem.
Dari sini anak juga bisa belajar bahwa setiap makhluk, sekecil apa pun, memiliki peran dalam kehidupan. Bagi keluarga kami, proses mengompos menjadi salah satu cara sederhana untuk mengajarkan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu dengan perannya masing-masing.
"Sesungguhnya padanya ada tanda - tanda bagi orang - orang yang berpikir " (Q.S An-Nahl 11)
Mengajarkan mereka untuk mengapresiasi alam sekitar dan memberi mereka kepuasan melakukan tindakan kecil sebagai sahabat alam.
Cara Mengompos di Rumah Bersama Anak
Di rumah, saya menggunakan dua cara berbeda untuk mengolah sampah organik. Sisa makanan tertentu saya masukkan ke lubang biopori, sedangkan kulit dan potongan buah serta sayuran saya masukkan ke wadah komposter.
Untuk sisa makanan yang dibuang dalam lubang biopori adalah sisa makanan olahan. Dimana sampah ini bisa menghasilkan bau yang tidak sedap juga mengundang datangnya belatung.
Sedangkan untuk sampah sisa buah dan sayur seperti kulit dan potongan buah yang tidak dimakan dibuang dalam wadah komposter. Dengan pemilahan seperti ini kompos yang dihasilkan tidak akan berbau justru beraroma segar khas buah buahan. Sampah ini bisa dipanen menjadi pupuk/kompos.
Pengomposan juga memperkenalkan anak pada berbagai organisme yang berperan dalam penguraian, termasuk larva lalat atau maggot. Namun, pengelolaan maggot merupakan topik tersendiri yang menarik untuk dibahas.
Cara Membuat Kompos dalam Ember Bersama Anak
Langkah langkah mengompos dengan menggunakan ember komposter :
- Anak anak menyiapkan ember yang sudah dilubangi bagian bawah dan pinggirannya. Tujuannya agar proses penguraian lebih cepat dengan lubang udara yang banyak. Proses pelubangan bisa dibantu oleh ayah /ibu
- Minta anak memasukkan unsur coklat seperti sekam, jerami, daun kering, rumput (pilih salah satu) ke dalam ember. Disini anak belajar mengenali unsur dalam kompos
- Lanjutkan dengan memasukkan unsur hijau yaitu sisa makanan berupa buah buahan atau sayur. Anak anak bisa melakukannya setiap hari sehabis makan buah yang mereka makan.
- Campurkan bahan cokelat dan bahan hijau dalam proporsi yang sesuai. Jika bahan terlalu kering, tambahkan bahan hijau atau sedikit air. Jika terlalu basah, tambahkan bahan cokelat seperti daun kering atau sekam.
- Minta anak mengaduk semuanya sampai rata. Sampah organik akan mengalami proses penguraian dengan bantuan mikroorganisme dan organisme lain hingga berubah menjadi bahan yang lebih stabil dan menyerupai tanah.
- Ajarkan pada anak proses mengaduk sangat penting. Aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan dapat menghasilkan panas. Pengadukan membantu memasukkan oksigen dan membuat bahan tercampur lebih merata sehingga proses penguraian dapat berlangsung dengan baik. Bila tidak diaduk prosesnya berjalan lebih lama
- Kompos dapat dipanen setelah beberapa bulan. Anak harus sabar menunggu sebelum panen tiba.
💡Tips Mengompos Bersama Anak
🌱 Mulai dari jumlah sampah organik yang sedikit.
🌱 Biarkan anak memasukkan bahan kompos sendiri.
🌱 Gunakan istilah sederhana seperti “bahan hijau” dan “bahan cokelat”.
🌱 Jangan memaksa anak menyentuh bahan yang membuatnya tidak nyaman.
🌱 Dampingi anak ketika menggunakan alat atau membuka komposter.
🌱 Ajak anak mengamati perubahan kompos setiap beberapa hari.
🌱 Setelah matang, ajak anak menggunakan kompos untuk tanaman.
F A Q
1. Apakah anak bisa membuat kompos sendiri?
Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan mengompos, tetapi tetap perlu disesuaikan dengan usia dan berada dalam pendampingan orang dewasa, terutama saat menggunakan alat atau menangani bahan tertentu.
2. Apa saja sampah yang bisa dijadikan kompos?
Sisa buah, sayuran, daun kering, rumput, sekam, dan berbagai bahan organik lainnya dapat digunakan sebagai bahan kompos dengan pengelolaan yang tepat.
3.Apakah kompos akan berbau?
Kompos dapat menimbulkan bau jika terlalu basah, kekurangan oksigen, atau komposisinya tidak seimbang. Pengelolaan kelembapan dan aerasi membantu mengurangi masalah tersebut.
4.Berapa lama kompos bisa dipanen?
Waktu pengomposan berbeda-beda tergantung metode, bahan, ukuran potongan, kelembapan, aerasi, dan kondisi lingkungan.
Menjadikan Mengompos sebagai Kegiatan Harian Anak
Awalnya saya hanya ingin mencari kegiatan sederhana yang bisa dilakukan bersama anak di rumah. Ternyata dari satu ember kompos saja muncul begitu banyak percakapan. Kami membicarakan dari mana datangnya sisa makanan, mengapa daun bisa berubah warna, kenapa kompos menjadi hangat, sampai ke mana sampah akan pergi jika tidak kita olah.
Bagi saya, inilah bagian paling menarik dari mengompos bersama anak. Kompos memang menjadi hasil akhirnya, tetapi proses mengamati, bertanya dan berdiskusi bersama anak justru menjadi bagian yang paling berharga.
Menjadikan mengompos sebagian bagian dari kegiatan rutin anak anak di luar rumah selain menyiram tanaman atau membersihkan teras rumah. Semakin cepat kebiasaan mengompos terbentuk saat masih belia semakin mudah mereka akan menanggulangi sampah yang mereka hasilkan sendiri.
Biarkan anak anak menangani sampah dapur sisa meracik masakan. Sediakan wadah khusus untuk sampah organik di dapur biarkan penuh sampai seharian dan anak anak bisa membuangnya saat sore/malam hari.
Kita bisa membuat jadwal kegiatan mengompos mingguan bersama keluarga. Kapan saat mengaduk kompos juga kapan saat menyebar kompos di kebun atau dalam pot pot tanaman.
Mengompos mengajarkan anak berbagai pengetahuan. Mengajarkan anak bagaimana daur hidup bekerja. Membantu mereka membangun sikap ramah terhadap lingkungan.
Selain itu mengompos juga memberi pelajaran bernilai disisi lain memberi manfaat yang luar biasa bagi lingkungan sebagaimana mestinya.
Membutuhkan waktu dan kesabaran dalam menghasilkan kompos pertama anak anak.
Tapi menurut saya hal ini sebanding karena merupakan pelajaran berharga untuk anak anak dan semua keluarga!
Mau mencoba ?
“Nature never creates waste; everything is recycled. Only humans break this perfect circle.”







No comments: